Cegah Lonjakan Kasus Paska Nataru Perlu Partisipasi Seluruh Elemen Masyarakat

  • Whatsapp
Jubir Wiku Adisasmito ketika memberikan Keterangan Pers Perkembangan Penanganan COVID-19 di Graha BNPB, Kamis (25/11/2021).

JAKARTA, Pantau24jam.com, – Dalam menghindari lonjakan kasus pasca Nataru nanti, perlu partisipasi seluruh elemen masyarakat guna mengantsipasi mobilitas masyarakat yang berpotensi terjadinya penyebaran Covid-19.

Read More

Untuk itu jelang periode libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) masyarakat harus menyadari bahwa potensi penularan kasus COVID-19 dapat terjadi. 

Karena kondisi Pandemi COVID-19 di Indonesia saat ini dapat terkendali berkat upaya keras yang dilakukan Pemerintah bersama seluruh lapisan masyarakat.

Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Prof. Wiku Adisasmito menyandingkan pencapaian kondisi di Indonesia dengan sejumlah negara lain yang berhasil mengendalikan kasus. Setidaknya terdapat 5 negara termasuk Indonesia yang berhasil menurunkan kasus dengan signifikan dan dapat mempertahankannya dalam jangka waktu lama.

“Pencapaian Indonesia dapat dikatakan mampu bersaing dengan negara-negara ini,” jelas Wiku dalam Keterangan Pers Perkembangan Penanganan COVID-19 di Graha BNPB, Kamis (25/11/2021).

Sejumlah negara-negara dimaksud diantaranya India, Filipina, Iran, Jepang dan Indonesia. Seperti di India, kasus turun hingga 97% dari puncak dan bertahan selama 201 hari. Jumlah kasus mingguan kini 69.165 kasus, lebih rendah dibanding jumlah terendah sebelum lonjakan yaitu 78.395
kasus.

Lalu, Filipina berhasil menekan kasus hingga 94,3% dari puncak lonjakan dan penurunan bertahan 71 hari. Jumlah kasus mingguan saat ini, sebesar 8.342 kasus. Lebih rendah dibanding titik terendah sebelum puncak sebesar 34.284.

Selanjutnya di Iran, penurunan kasus sebesar 87% dari puncak yang bertahan selama 100 hari terakhir. Saat ini kasus mingguan 36.367 kasus, lebih rendah dari jumlah terendah sebelum lonjakan yaitu sebesar 55.271 kasus.

Di Jepang, kasus turun 99,5% dari puncak kasus dan bertahan selama 157 hari. Penurunan ini berhasil ditekan dengan sangat signifikan, dimana titik kasus mingguan terendah sebelum lonjakan adalah 9.986 kasus, sedangkan saat ini hanya sebesar 890.

Sementara pencapaian Indonesia mampu bersaing dengan negara-negara ini. Indonesia menurunkan kasus hingga 99,3% dari puncak lonjakan, mirip dengan Jepang, dan berhasil dipertahankan selama 130 hari, lebih lama dari Iran dan Filipina. Jumlah kasus Indonesia ini jauh lebih sedikit jika disandingkan dengan jumlah penduduk. 

Bahkan dimana Iran dan Filipina yang penduduknya lebih sedikit dari Indonesia, masih memiliki jumlah kasus yang lebih besar. “Saat ini kasus mingguan di Indonesia adalah sebesar 2.564, jauh lebih sedikit dibandingkan titik terendah sebelum lonjakan yaitu 26.126 kasus,” jelas Wiku.

Melihat perbandingan tersebut, Wiku menekankan bahwa terdapat pembelajaran yang dapat dipetik. Diantaranya, Pertama, Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) sebagaiman diterapkan pada 4 negara lainnya. 

Belajar dari Negara Lain

Meskipun detail aturannya berbeda-beda. Belajar dari India, pembatasan aktivitas konsisten dilakukan meskipun kasus sudah turun. Pembatasan bahkan saat perayaan keagamaan, dengan membatasi interaksi sosial dalam lingkup satu rumah saja. Belajar dari Filipina, pembatasan kegiatan masyarakat perlu dilakukan segera begitu kasus menunjukkan kenaikan. 

Kedua, peningkatan cakupan vaksinasi dosis lengkap juga dilakukan oleh keempat negara tersebut. Capaian vaksinasi dosis lengkap di Jepang bahkan sudah berhasil mencapai 70% dari populasi, Iran mencapai 50% populasi. Di Filipina, cakupan vaksinasinya juga baru mencapai 39%, namun dengan kebijakan lockdown yang diterapkan selama kurang lebih 20 bulan maka kasus covid-19 dapat ditekan dan bertahan dalam waktu lama.

Di India terdapat keunikan upaya vaksinasi yang dilakukan secara door to door meskipun cakupan vaksinasi dosis lengkapnya baru mencapai 30%. “Namun penurunan kasus bertahan salah satunya karena pada saat lonjakan kasus kemarin 70% masyarakatnya telah terinfeksi COVID-19 sehingga telah terbentuk kekebalan alami,” imbuh Wiku.

Ketiga, penerapan disiplin protokol kesehatan. Kebijakan ini diberlakukan pada keempat negara, terutama penggunaan masker. Seperti di Filipina, penerapan protokol kesehatan disertai dengan sanksi da pengawasannya oleh tentara dan polisi.

Keempat, upaya testing dan tracing yang juga terus dimasifkan. Di India, kebijakan testing masif diterapkan termasuk pada orang yang tidak bergejala.

Dari pembelajaran di atas, penting bagi Indonesia untuk dapat mengamatinya. Karena di Indonesia kegiatan masyarakat berangsur normal. Meskipun penggunaan masker diwajibkan, namun tidak sepenuhnya diawasi dengan baik. Terlihat pelanggaran di beberapa tempat umum seperti terminal dan pasar rakyat.

“Kepatuhan protokol kesehatan ini harus diterapkan dan diawasi secara serius dengan memastikan terdapat satgas di setiap tempat umum karena jika kita lengah, potensi terjadinya kenaikan kasus akan semakin besar,” lanjutnya.

Selain itu, cakupan vaksinasi dosis lengkap di Indonesia juga perlu terus dikejar, mengingat capaiannya masih kurang dari 50%. Vaksinasi dosis lengkap dapat memberikan perlindungan maksimal. Jika upaya telah dilakukan, tidak menutup kemungkinan Indonesia bisa lolos dari ancaman gelombang ketiga paska periode Nataru.

Meskipun ini bukan hal yang mudah, namun dengan gotong royong antara seluruh lapisan masyarakat dan pemerintah ini bisa saja tercapai.

“Kunci kesuksesan kita menghadapi periode nataru nanti ada 2, yaitu Pertama, kesadaran masyarakat untuk tetap memakai masker dan menjaga jarak, serta tidak menunda-nunda untuk divaksin. Dan kedua, keseriusan pemerintah dalam pengawasan protokol kesehatan, dan distribusi vaksin pada wilayah-wilayah yang cakupannya masih rendah,” pungkas Wiku. (her, sg)