Hakim PN Medan Vonis Ringan Mahasiswa Kurir 20 Kg Sabu, Granat Sumut: Hukuman Tak Sesuai Rasa Keadilan

  • Whatsapp

Ket Foto : Sastra SH MKn selaku Ketua DPD Granat Sumut.

Pantau24jam.com – Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Medan yang diketuai Denny Lumbantobing menjatuhkan hukuman ringan kepada Aditya Warman alias Adit (23), seorang mahasiswa yang menjadi kurir 20 kilogram narkoba jenis sabu.

Warga Deli Serdang itu, pada Selasa, 12 Oktober lalu, hanya dihukum 15 tahun penjara dan denda Rp1 miliar dengan ketentuan apabila tidak dibayar digantikan dengan pidana penjara selama 4 bulan penjara, dari tuntutan jaksa yang meminta agar Adit dihukum 20 tahun penjara.
Hukuman ringan ini dinilai tak pantas jika dibandingkan dengan dampak kerusakan yang timbul jika narkoba itu beredar. Dengan asumsi 1 orang mengkonsumsi 1 gram sabu-sabu, dampak kerusakannya bisa menyasar 20 ribu orang generasi muda.
Hal itu dikatakan Ketua DPD Gerakan Nasional Anti Narkotika (GRANAT) Sumatera Utara (Sumut), Sastra SH MKn ketika dimintai tanggapannya oleh Pantau24jam.com terkait putusan yang dinilai ringan tersebut, Sabtu, 16 Oktober 2021.
“Dengan barang bukti 20 kg sabu, seharusnya hakim tersebut berpihaklah dengan bangsa dan negara, karena kerusakan akibat 20 kg sabu itu, jika lolos dari penegak hukum, maka akan mengancam kerusakan ribuan orang generasi mudah, ini perkara 20 kg sabu itu bukan main-main,” tegas Sastra. 
Lanjut dikatakan Sastra, jadi hukuman 15 tahun penjara yang dijatuhkan hakim PN Medan kepada terdakwa dengan barang bukti 20 kg sabu terlalu rendah tidak sesuai dengan rasa keadilan di Masyarakat. 
“Jadi, kita sangat kecewa dengan putusan hakim PN Medan, karena pertimbangan saya selaku Ketua Granat Sumut, akibat dari 20 kg sabu tersebut dapat merusak ribuan orang dan putusan tersebut tidak membuat efek jerah bagi pelaku, sehingga kedepannya peredaran narkoba akan terus terjadi,” ujarnya.
Oleh karena itu, sambung Sastra, kita meminta kepada aparat hukum mulai kepolisian, kejaksaan sampai ke pengadilan agar sama-sama konsen dalam menangani dan memberantas peredaran narkoba, karena narkoba ini sudah darurat di Indonesia khususnya Sumatera Utara.
“Jadi, gunakanlah hukuman maksimal, karena hukuman maksimal itu kan bukan melanggar dan malah dibenarkan. Jadi gak apalah kalau hanya beberapa orang akibat perbuatannya dihukum maksimal untuk menyelamatkan ribuan jiwa orang dan generasi muda,” katanya sembari berharap kedepannya aparat penegak hukum dapat benar-benar serius memberantas peredaran narkoba. (MC/DAF)

Related posts