Berkat Irigasi Canggih, Pohon Zaitun Bertahan di Tengah Gelombang Panas

  • Whatsapp
Berkat Irigasi Canggih, Pohon Zaitun Bertahan di Tengah Gelombang Panas


Ketika gelombang panas yang membakar bagian timur daratan di sekeliling Laut Tengah semakin intensif, suhu di beberapa bagian ibu kota Yunani pekan lalu mencapai 42 derajat Celsius. Data pada World Resources Institute tahun 2014 menunjukkan Yunani berada pada urutan ke-26 negara yang paling kekurangan air di dunia. Dengan sumber daya yang terbatas, teknologi irigasi yang canggih, dikenal sebagai “precision irrigation” atau “irigiasi presisi” berupaya mengatasi isu air ini. 

“Berdasarkan pengalaman saya, hujan sangat jarang turun di tempat ini. Tetapi begitu hujan, waktunya lebih singkat dan lebih deras.”

Read More

Inilah Ioannis Louloudakis, petani zaitun di dekat desa Archanes, di Pulau Kreta, Yunani. Ia mengatakan orang tidak perlu bekerja di pertanian untuk memperhatikan bagaimana perubahan curah hujan, yang sangat berharga di pulau yang relatif kering itu.

Ketika bagian timur daratan di sekeliling Laut Tengah mengalami gelombang panas yang hebat, pohon-pohon zaitun di Pulau Kreta, disiram dengan sistem teknologi yang memastikan semua pohon mendapat cukup air dan tidak ada yang terbuang. Berkat proyek uji coba irigasi presisi di pertaniannya, Louloudakis berhasil mengurangi konsumsi air secara signifikan.

Sensor-sensor di bawah tanah dan di atmosfir memberikan hitungan yang sangat tepat tentang jumlah air yang dibutuhkan untuk mengairi pohon-pohon zaitun Louloudakis. Penghitungan itu dilakukan dari jarak jauh.

“Dari pengalaman saya, berkat teknologi baru ini ada pengurangan penggunaan air sekitar 20%.”

Sistem irigasi cerdas di perkebunan zaitun Louloudakis didasarkan pada sistem irigasi cerdas yang tersedia secara komersil.

Dimitris Apostolakis di Future Intelligence menjelaskan bagaimana mereka mengembangkan teknologi baru ini. “Kami ingin agar teknologi cerdas yang kami tawarkan ini menjadi teknologi spesialis sektor budidaya zaitun, yang sangat penting bagi Yunani dan seluruh bagian selatan Eropa.”

Dr. Ioannis Daliakopoulos di Hellenic Mediterranean University di Pulau Kreta adalah koordiator ilmiah proyek ini.

Dengan menggunakan sensor, lisimeter-lisimeter digunakan untuk menghitung secara akurat air yang hilang karena penguapan dari tanah dan penguapan air dari tanaman. Fenomena hilangnya air ini dikenal sebagai evapotranspirasi. Lisimeter juga menjadi salah satu alat utama yang digunakan Daliakopoulos dan rekan-rekannya untuk menciptakan sistem irigasi “ahli” berpresisi tinggi.

Daliakopoulous juga melakukan pengujian irigasi kebun zaitun di Hellenic Mediterranean University.

“Konsepnya adalah meningkatkan teknologi irigasi tetes yang sudah ada, dengan memanfaatkan lebih banyak sains dan model-model irigasi. Biasanya sistem irigasi didasarkan pada jadwal. Jadi pada suatu saat, dalam satu interval waktu tertentu, mereka akan menyiram pertanian. Lewat teknologi baru itu, kini kami tidak saja memberi informasi tentang iklim dan tanah, tetapi juga saat panen hingga kesehatan tanaman pangan itu. Kami memonitor semua fisika tanah ini dengan sangat teliti untuk memperoleh lebih banyak informasi tentang model yang kami kembangkan dan menghasilkan panen yang lebih baik,” paparnya.

Daliakopoulos menggunakan komputer permodelan untuk meningkatkan teknologi yang ada. Sebagian parameternya adalah kelembaban tanah, perkiraan cuaca, suhu atmosfir, salinitas tanah dan perkiraan evapotranspirasi. Data sebelumnya dan proyeksi masa depan juga dihitung.

Ini adalah peningkatan besar dari sistem irigasi terjadwal yang dikembangkan sebelumnya. Teknologi ini terbukti membuahkan hasil di proyek percontohan perkebunan zaitun milik Louloudakis.

Tidak hanya itu, petani seperti Louloudakis tidak lama lagi akan bisa mengelola operasi pertanian mereka dari jarak jauh. Louloudakis yakin ia akan segera dapat memeriksa pertaniannya secara langsung hanya dua kali setahun, selebihnya lewat jarak jauh saja.

Tantangan pengelolaan air, termasuk eksploitasi air tanah yang berlebihan dan rendahnya efesiensi air di pertanian berdasarkan kajian tahun 2020 ini telah terbit di jurnal “Water.”

Menurut Hellenic Mediterranean University, irigasi berlebihan di Pulau Kreta berkisar antara 30% persen lebih. Ini menjadi masalah di pulau yang memiliki keterbatasan air dan kekeringan.

Selain eksploitasi air secara berlebihan, mengubah pola cuaca adalah keprihatinan tersendiri. Para ilmuwan memperkirakan seiring perubahan iklim dan curah hujan yang semakin sedikit, Pulau Kreta akan menjadi semakin gersang. [em/ka]

Related posts