Belum Beri Kesaksian di Sidang Perkara Dugaan Jual-Beli Jabatan di Kemenag Sumut, JPU Kejar Surat Sakit Ketua Kadin Sumut

Sidang 'Kilat' Perkara Korupsi di Kemenag Sumut, 3 Agenda Selesai dengan Hitungan Jam, Hakim Langsung Bacakan Vonis

Ket Foto : Sudang kasus dugaan jual-beli jabatan di Kemenag Sumut digelar di ruang Cakra 9 Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Medan.

Pantau24jam.com – Ketua Kamar Dagang Industri (Kadin) Sumut, Khairul Mahalli yang telah diminta menjadi saksi dalam kasus suap jual beli jabatan di Kemenag Sumut, hingga kini belum menampakkan batang hidungnya di pengadilan. 

Read More

Kendati demikian, Tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejatisu akan tetap menghadirkannya ke persidangan. 

“Kalau Khairul Mahalli sakit COVID dia. Tapi surat sakitnya belum ada kita pegang. Makanya mau kami (jaksa) kejar juga suratnya, benar asli atau tidak,” ujar JPU Polim Siregar kepada wartawan seusai sidang, Kamis (1/7/2021) kemarin. 

Dengan alasan sakit, Khairul Mahalli yang disebut-sebut Kepala MAN 3 Medan, Nurkholida Lubis di persidangan sebelumnya bisa menghentikan kasus tersebut di Kejatisu dengan menyerahkan uang Rp150 juta. Untuk itulah, kata Polim, pihaknya masih tetap meminta kesaksian Mahalli. 

“Pemanggilan sudah kami layangkan kepada Khairul Mahalli,” katanya. 

Disinggung mengenai peran Nurkholida dan Khairul Mahalli apakah ada tersangka baru dalam kasus jual beli jabatan di Kemenag Sumut, Polim mengatakan tak menutup kemungkinan. 

“Bisa saja, kita lihat sajalah nanti. Nanti aku bilang ada ternyata tidak ada, kalian kejar-kejar pula aku,” pungkasnya sambil tertawa. 

Sebagaimana diketahui, dalam keterangan Nurkholida yang termuat di Berita Acara Penyidikan (BAP) terkait pemberian uang Rp150 juta kepada seseorang untuk menutup kasus jual beli jabatan tersebut di Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejati Sumut).

“Di BAP ibu nomor 19 ada namanya Khairul Mahalli ini apa kaitannya dengan kejadian jual beli jabatan saat ini,” cecar JPU.

Lantas Nurkholidah berkilah tidak mengetahui apa hubungannya pemberian uang tersebut dengan perkara yang tengah disidangkan saat ini.

“Saya tidak tau kaitannya dengan jual beli jabatan, saya disuruh pak Iwan untuk mengasikan uang itu ke pak Khairul,” katanya.

Tidak sampai di situ, Jaksa kembali mencecar siapa Khairul Mahalli dan apa jabatannya di Kementerian agama. Namun Nurkholidah mengaku ia tidak begitu mengenal Khairul.

“Kalau jabatannya di kementerian agama tidak ada pak, saya tidak tau dia pengusaha atau apa, tapi yang diperkenalkan pak Iwan ke kami di Ketua Kadin Sumatera Utara,” bebernya.

Selanjutnya, Jaksa kembali mencecar untuk apa uang Rp150 juta diserahkan ke Khairi. Meski awlanya tetap mengelak tidak tahu, akhirnya Nurkholidah mengakui kalau uang itu untuk menutup perkara di Kejati.

“Saya tidak tau kaitannya tetapi kata bapak itu untuk menyelesaikan masalah,” ucapnya.

“Lantas masalah apa,” tanya Jaksa.

“Mungkin masalah ini,” katanya dengan suara pelan.

Mendengar hal tersebut, sontak saja Jaksa menegur Nurkholidah agar jangan menggunakan kata ‘mungkin’ di persidangan.

“Jangan mungkin, Itu uangnya Rp 150 juta dapat dari mana,” cecar JPU lagi.

Ia pun mengaku kalau uang tersebut dikutip dari beberapa kepala sekolah di Medan.

“Diminta dari kepala sekolah untuk menyelesaikan perkara di Kejati. Jadi kami (nyetor) Rp 10 juta satu orang, kami ada beberapa orang yang (bayar) lebih. Penyerahannya Rp  50 juta saya transfer, yang Rp 100 juta saya antar ke hotel,” ungkap Nurkholidah.

“Untuk menutup kasus di Kejati?,” tanya Jaksa memastikan

“Benar pak,” kata Nurkholidah.

Tidak sampai di situ, Jaksa kembali menanyakan mengapa uang tersebut diserahkan ke Khairul, dan dijawab Nurkholidah bahwa Khairul disebut-sebut dapat mengamankan perkara ini karena dekat dengan pihak Kejati.

“Saya tanya pak Iwan Zulhami pengakuannya pak Khairul dekat dengan orang Kejati, dan dia bisa menyelesaikan masalah,” ucapnya.

Mendengar semua pernyataan tersebut, sontak saja Penasehat Hukum para terdakwa meminta kepada majelis hakim agar mengeluarkan penetapan penahanan terhadap Nurkholidah. (MC/DAF)

Related posts