Ceramah Bulan Ramadhan Dihentikan di PT Pelni, Komisaris: Penyembah Galon, Prof Musni: Apa Tugas Komisaris Independen?

  • Whatsapp

JAKARTA – pantau24jam.com. Tindakan pelarangan ceramah di bulan suci Ramadhan 1442 hijriah di PT Pelni kini menjadi perhatian kalangan ummat Islam.

Tidak itu saja keheboan makin menjadi-jadi setelah pejabat di perusahaan plat merah tersebut dipecat.

Hasil tangkap layar Akun twitter @papanya pram

Diketahui Komisaris Indenpenden PT Pelni (Perseroan) Kristia Budiarti atau Kang dede saat Pilpres 2019 lalu merupakan Buzzer jokowi.

Kang Dede kini me jadi sorotan publik setelah tindakannya menghentikan pengajian di bulan Ramadhan 1442 hijriah di lingkungan PT Pelni.

Atas sikapnya tersebut Kristia Budiarti. Terlebih, dia menyebut kata radikalisme.

Media sosial twitter netizen ramai menanyakan agama Komisaris Indenpenden tersebut. Pasal nya dia pernah mengaku muslim, namun dilain waktu dia mengaku beragama Katolik.

Akun twitter @papanya pram misalnya menanyakan ihkwal agama yang dianut Komisaris Indenpenden PT Pelni ini.

“Pak jujur pak. Bapak agamanya apa?” Akun twitter @papanya pram

Jawab Kristia Budiarti menggunakan akun twiiter miliknya @kangdede78 membalas akun @papanya pram “Penyembah galon” kata akun @kangdede.

Rektor Universitas Ibnu Chaldun (UIC), Prof Musni Umar.

Sosiolog Musni Umar menyayangkan adanya pembatalan sebuah kajian daring Agama Islam di BUMN (PT Pelni).

Sebab ramai dibicarakan bahwa pembatalan kajian itu lantaran mayoritas penceramah yang diundang diduga radikal.

“Prihatin pengajian Ramadan dibatakan dikaitkan radikalisme. KH Cholil Nafis dari MUI dan lain-lain digolongkan radikal? Pejabat PELNI dicopot,” tulis @musniumar di akun Twitter pada Ahad (11/4/2021).

Terlebih Komisaris PT Pelni, yakni Dede Budhyaryo sendiri yang angkat bicara saat pembatalan kajian tersebut.

“Kalau benar dilakukan komisaris independen menyedihkan. Apa itu tugas komisaris independen?” ujarnya.

Sebagaimana diberitakan, direksi PT Pelni membatalkan acara kajian Islam Ramadan daring di Badan Kerohanian Islam PT Pelni karena ingin menindak radikalisme.

Selain itu, dikabarkan pejabat BUMN sampai dipecat karena mengurusi kajian tersebut. Komisaris PT Pelni, yakni Dede Budhyaryo, pun angkat bicara dan menjelaskanmasalah yang terjadi.

Dede mengonfirmasi bahwa memang pejabat yang terlibat telah dicopot sebagai bentuk nyata dari sikap tegas pada radikalisme. Ia mengatakan pencopotan pejabat itu peringatan bagi kalangan BUMN agar tak sembarangan memberi panggung bagi penceramah radikal.

“Selain pejabat yang terkait dengan kepanitiaan acara tersebut telah DICOPOT. Ini pelajaran sekaligus WARNING kepada seluruh BUMN, jangan segan-segan MENCOPOT ataupun MEMECAT pegawainya yang terlibat radikalisme. Jangan beru ruang sedikitpun BERANGUS,” tulis @kangdede78.

Sementara itu, dirinya dihubungi untuk isi kegiatan Ramadhan sebagaimana semestinya untuk berceramah.

“Karena waktunya yang cocok dan daring maka saya terima, dan saya tak pernah menanyakan dengan siapa dan siapa saja asatidznya yang diundang,” paparnya.

Namun, ia menyatakan bahwa pengisi kajian yang disebut radikal bukanlah dirinya. “Saya pun dapet telp begitu dari orang dalam bahwa yang ditolak bukan saya tapi narsum yang diprotes oleh netizen,” katanya.

Prihatin pengajian Ramadan dibatakan dikaitkan radikalisme. KH Cholil Nafis dari MUI dll digolongkan radikal? Pejabat PELNI dicopot. Kalau benar dilakukan komisaris independen menyedihkan. Apa itu tugas komisaris independen?

Tim Red

Related posts