Demi Penegakan Prokes, Camat Ujung Pare-Pare Rela Membentak Dan Memaki Warganya

  • Whatsapp

PAREPARE – pantau24jam.com. Operasi yustisi penegakan peraturan wali kota Parepare tentang protokol kesehatan (Prokes), khususnya di wilayah kecamatan Ujung Kota Parepare kembali menuai kritikan dan sorotan.

Pasalnya, saat Camat Ujung Ulfa Lanto memimpin operasi penertiban di kawasan pantai Pasar senggol kota Parepare dianggap memberikan sikap kasar kepada masyarakat.
Sabtu, 26/12/2020 malam.

Rekaman videonya pun viral ke laman youtube dan grup whatsapp.

Dalam rekaman tersebut, nampak Ibu camat Ujung bersitegang dengan salah satu pemilik warung kaki lima. Selain memaki maki, juga membentak dengan suara yang sangat kasar sehingga membuat suasana makin gaduh meski dilerai oleh Satpol PP dan pihak berwajib.

Camat Ujung ini tidak dapat mengendalikan emosi, sontak dia menggebrak meja sembari membentak pemilik warung yang merupakan seorang wanita paruh baya.

Dan tiba-tiba seorang putri si pemilik warung menyela karena tidak terima ibunya dibentak-bentak.

“Kenapa ki bentak-bentak mama ku, bagaimana juga perasaan ta kalau mama ta digerra-gerra”, ucapnya dengan histeris.

Kemudian camat membalas dengan mengatakan, “saya juga bilang bagaimana mama mu pembohong”, dengan suara keras dan tampak sangat emosional.

Ketegangan dipicu karena pemilik warung tidak mematuhi perwali yang membatasi jam operasional hanya sampai pukul 20.00 Wita.

Pertengkaran akhirnya berhasil diredam oleh beberapa personil tim satgas covid-19 yang turut serta mendampingi camat ujung.

Beberapa warga net (netizen) memberikan komentarnya setelah menyaksikan rekaman peristiwa tersebut.

“Harusnya lebih humanis dan mengedepankan edukasi menghadapi warga”, komentar salah satu netizen.

Sementara netizen lainnya merespon dengan kritikan yang tajam.

“Bu Ulfa belum layak jadi camat karena belum matang secara emosional. Ini akan merusak citra pemerintah daerah dan Walikota Parepare di masyarakat”, tulisnya.

Dia lantas menghadap ke ibu camat untuk meminta maaf karena melewati batas waktu yang ditentukan.

“Bu saya minta maaf karena terlambat ka mappungut (beres-beres)”, cerita si pemilik warung, menirukan penyampaiannya pada camat ujung tadi malam.

“Tapi bukannya diterima baik, saya malah dibentak dengan mengatakan, mau melawan pejabat”, jelasnya.

Ibu pemilik warung ini mengatakan, dalam peristiwa tadi malam, camat ujung tidak mampu mengendalikan amarahnya.

“Dia teriak-teriak tidak karuan kayak kesetanan. Makanya anak ku menangis, saking kerasnya orang tuanya dibentak-bentak. Apalagi dia dalam kondisi hamil enam bulan”, ujarnya.

Ibu ini mengharapkan agar pembatasan jam operasional kepada para pedagang perlu ditinjau ulang, karena berdampak besar terhadap penghasilan mereka.

Pemerintah daerah harus bijaksana memikirkan nasib pedagang, terutama pedagang kaki lima yang waktu berjualannya sore sampai malam hari.

Dia menuturkan, dampaknya bukan saja mengurangi omset, tapi malah mengakibatkan mereka kehilangan omset.

Menurutnya, untuk mensiasati soal kerumunan, hanya diperbolehkan melayani pesanan bungkusan saja (take away) dan dibatasi sampai pukul 22.00.

Red

Related posts