LSM KontraS: Polisi Tangkap Pengunjuk Rasa, Disiksa Baru Dilepaskan

  • Whatsapp

JAKARTA – pantau24jam.com. Unjuk rasa yang melibatkan sejumlah elemen masyarakat menolak Omnibus Law Undang-Undang (UU) Cipta Kerja berujung kekerasan dan penangkapan dari aparat kepolisian.

Ribuan pengunjuk rasa disebut ditangkap, kemudian disiksa, dan dilepas kembali oleh polisi. Para pengunjuk rasa tolak Ciptaker tersebut diketahui berasal dari berbagai kalangan mulai pelajar, mahasiswa, hingga buruh.

“Hingga kini yang kami dapat di Jakarta ada ribuan ditangkap dan mengalami penyiksaan lalu setelah itu dibebaskan,” ujar perwakilan Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Fatia Maulidiyanti dalam diskusi virtual. Ahad (25/10).

Menurut Fatin dari ribuan orang yang ditangkap di Jakarta, 200 pengunjuk rasa di antaranya dijadikan tersangka. Kini para pengunjuk rasa di Jakarta sudah disebar diseluruh direktorat kepolisian.

Ia mengaku belum memperoleh data pasti mengenai jumlah total pengunjuk rasa yang ditangkap kemudian disiksa aparat untuk seluruh Indonesia. Diketahui pengunjuk rasa penolakan UU ini terjadi di berbagai wilayah Tanah Air.

“Kami masih kumpulkan,” ucap Fatia.

Perwakilan Gerakan Tolak Omnibus Law (Getol) Jawa Timur Andy Irfan juga mengakui adanya dugaan tindakan represif aparat kepada peserta unjuk rasa. Sementara itu Polda Jawa Timur sebelumnya menyebutkan telah menangkap 182 orang terkait pengunjuk rasa walau berjalan kondusif. Pengunjuk rasa berlangsung pada Selasa (20/10) lalu.

“Ratusan mahasiswa dan pelajar di Jawa Timur dilaporkan mendapat pemukulan dan perlakukan kasar dari aparat hukum,” jelas Andy.

Tak Ada Pendamping Hukum

Andy menambahkan aparat juga membatasi akses pendamping bantuan hukum kepada mereka yang ditahan.

“Jadi untuk akses bantuan hukumnya itu dipersulit,” terang Andy.

Fatia membenarkan hal tersebut. Menurut Fatia tidak ada transparansi dari aparat terhadap para pengunjuk rasa yang mereka amankan.

“Jadi hari ini pendampingan hukum tidak bisa diakses. Dan tidak ada transparansi bagaimana tujuan tentang orang yang ditangkap. Jadi ditangkap acak dengan sweeping dan tentunya tanpa surat penangkapan,” ungkap Fatia.

Pada unjuk rasa terakhir di Jakarta, 20 Oktober lalu, Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Nana Sudjana membantah frasa penangkapan terhadap massa aksi. Ia memilih menggunakan frasa ‘diamankan’.

“Ini kami amankan, bukan kami tangkap,” pungkas Nana kepada wartawan di sekitar lokasi pengunjuk rasa di Patung Kuda Arjuna Wiwaha, Jakarta, Selasa (20/10).

Andi Maryam / Andiz

Pos terkait