Ditahan di Lapas Salemba Cabang Mabes Polri Terkait Kasus Bank Bali, Mahkamah Agung Vonis Djoko 2 tahun Penjara

  • Whatsapp

JAKARTA – pantau24jam.com. Kejaksaan Agung mengeksekusi buron hak tagih Bank Bali, Djoko Tjandra.

Djoko langsung ditahan di Lembaga Pemasyarakatan Salemba cabang Mabes Polri terkait kasus Bank Bali. Dalam perkara ini, Mahkamah Agung memvonis Djoko 2 tahun penjara

Ditempatkan di ruang tahanan terpisah dengan Brigjen Prasetijo Utomo (BJP PU). Kepala Badan Reserse Kriminal Mabes Polri Komisaris Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengatakan polisi tetap fokus perkara pelarian Djoko.

“Yang bersangkutan dititipkan di Rutan Salemba cabang Mabes Polri, agar mempermudah penyidikan atas saudara Djoko Tjandra,” ujar Listyo pada Kamis, (31/7).

“Terkait dengan penempatan, tentunya kita akan memisahkan. Karena memang antara BJP PU dan Saudara Djoko Tjandra, tentunya kami masing-masing memiliki kepentingan untuk kami melakukan pendalaman, sehingga tidak mungkin kami jadikan satu,” jelas Kabareskrim Komjen Listyo Sigit Prabowo dalam jumpa pers di kantor Bareskrim Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta Selatan. Jum’at 31/7/2020.

Sigit mengatakan penempatan Djoko Tjandra di Rutan Salemba Cabang Mabes Polri hanya sementara. Setelah pemeriksaan selesai, Djoko Tjandra akan diserahkan ke rutan.

“Penempatan di sini sifatnya sementara. Setelah pemeriksaan selesai, akan diserahkan ke Rutan Salemba, untuk kemudian akan ditempatkan di tempat yang disesuaikan dengan kebijakan dari Karutan Salemba,” terangnya

Dia menjelaskan Djoko Tjandra sengaja ditempatkan secara sementara di Rutan Salemba Cabang Mabes Polri demi memudahkan pemeriksaan. Dia menegaskan prosedur ini sudah dijalankan sesuai aturan.

Listyo mengatakan polisi mendalami penyidikan dalam kasus surat jalan Djoko Tjandra. Selain itu, polisi akan membuka penyelidikan dugaan aliran uang.

Joko merupakan terdakwa kasus pengalihan hak tagih (cessie) Bank Bali senilai Rp 904 miliar yang ditangani Kejaksaan Agung. Pada 29 September 1999 hingga Agustus 2000, Kejaksaan pernah menahan Joko.

Namun hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memutuskan ia bebas dari tuntutan karena perbuatan itu bukan perbuatan pidana melainkan perdata.

Pada Oktober 2008, Kejaksaan Agung mengajukan peninjauan kembali (PK) terhadap kasus Joko ke Mahkamah Agung. Pada 11 Juni 2009, Majelis Peninjauan Kembali MA menerima PK yang diajukan jaksa.

Majelis hakim memvonis Joko 2 tahun penjara dan harus membayar Rp 15 juta. Uang milik Joko di Bank Bali sebesar Rp 546,166 miliar dirampas untuk negara. Imigrasi juga mencekal Joko.

Joko Tjandra kabur dari Indonesia ke Port Moresby, Papua Nugini pada 10 Juni 2009, sehari sebelum MA mengeluarkan putusan perkaranya. Kejaksaan menetapkan Joko sebagai buronan. Belakangan, Joko diketahui kembali masuk ke Indonesia untuk mendaftarkan PK ke PN Jakarta Selatan.

Do / Andiz

Pos terkait