Senam ‘Putar ke Kanan, Putar ke Kiri ‘Campur’ di Kantor NU Banyuwangi, Gus Luthfi : Meruntuhkan Martabat Ulama NU

SURABAYA – pantau24jam.com. KH Luthfi Bashori, putra almaghfurlah KH Bashori Alwi, pendiri Banom NU Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffadz (JQH), cikal bakal MTQ, ikut prihatin menyaksikan video senam ‘Putar ke Kanan, Putar ke Kiri’ di media sosial, yang diduga bertempat di Kantor NU Banyuwangi.

“Kanjeng Nabi Muhammad, Rasulullah SAW bersabda ‘Termasuk dari kebaikan kualitas keislaman seseorang itu adalah menghindar dari hal-hal yang tidak patut dilakukan’”, demikian disampaikan Gus. Rabu, 3/6/2020.

Panitia yang mengadakan senam di salah satu gedung NU, dengan membunyikan lagu dance seperti yang sedang viral di medsos, sangat kurang tepat. Apalagi melibatkan sejumlah kiai sepuh, terlebih dengan memanfaatkan instruktur seorang wanita.

“Semestinya pernanggung jawab acara tersebut menerapkan ajaran muru’ah (adab kesopanan) yang terbaik,” terangnya.

Gus Luthfi kemudian mengutip pendapat Imam Attalmasani, tentang pentingnya menjaga muru’ah. Menurut Imam Attalmasani,

“Muru’ah adalah karakter kecenderungan beretika dengan etika yang pantas dilakukan pada daerah setempat, sesuai dengan kapasitas sang pelaku.” ujarnya

“Muru’ah para ulama itu sangatlah mulia, maka wajib dijaga agar tidak menjatuhkan marwah atau martabat para ulama di depan umat Islam. Karena seseorang yang melanggar muru’ah itu dapat meruntuhkan atau merusak harga dirinya, bahkan dapat mempengaruhi kredibilitas ketokohannya, hingga berimbas pada kecacatan dalam penyaksiannya,” tuturnya.

Jangan Sampai Dianggap Lumrah

Merujuk video yang viral itu, berjoget ria termasuk dalam dunia senam, dengan membunyikan music non islami, jika saja dilakukan oleh preman-preman jalanan, tentu masih dapat dimaklumi oleh masyarakat. Karena umumnya seperti itu yang terjadi di daerah/wilayah Indonesia.

“Tapi perilaku ini menjadi aib, atau tidak pantas hingga dinilai melanggar muru’ah jika dilakukan oleh para kiai tokoh panutan umat. Saya khawatir ada infiltrasi liberalisme yang secara tidak disadari, merasuki pemikiran penanggung jawab acaranya, hingga merasa biasa-biasa saja saat mengemas acara tersebut,” ungkapnya.

Sejumlah warganet juga memberikan komentar yang mirip. Banyak warga NU yang merasa risih, dan khawatir setelah menyaksikan video tersebut. Jangan-jangan acara semacam ini sudah dianggap biasa, sehingga tidak ada yang salah.

“Ngeri saja! Tidak bisa membayangkan, ketika ada foto Mbah Hasyim, Mbah Wahab lalu menggelar senam campur seperti itu,” imbuh warganet.

Sebagian lagi berharap pengurus NU Banyuwangi segera memberikan klarifikasi soal video tersebut. Benarkah isi video itu? Kalau benar, mengapa harus berada di kantor NU Banyuwangi? Mengapa bisa campur laki-laki-perempuan seperti itu? Apakah sah-sah saja? Bagaimana dengan kekhawatiran warga NU, bahwa, senam campur seperti ini hanya akan meruntuhkan marwah ulama NU?

Ombas / Andiz

Pos terkait