Jabal Nur Tagline ‘Never Give Up’ Bakal Calon Walikota Makassar

  • Whatsapp

MAKASSAR – pantau24jam.com. Bakal Calon Walikota Makassar Jabal Nur berhasil diwawancara seputar pengalaman dan prinsip hidup kerja sebagai seorang pemuda milenial.

Andi Zulkarnain Nurdin Pimpinan Redaksi media pantau24jam.com berkesempatan wawancara, suasana santai di salah satu loby hotel bintang lima Kota Makassar pada Kamis, 30/1/2020 pukul 21.30 Wita

Terlahir dari keluarga seorang petani, membentuk karakternya menjadi pemuda yang gagah berani dan pekerja keras. Adalah Jabal Nur, pemuda daerah asal Kabupaten Bantaeng yang meneguhkan niatnya untuk maju pada Pemilihan Wali Kota (Pilwalkot) Makassar.

Berbeda dengan anak-anak seusianya, sejak kecil ia telah belajar arti usaha dan kerja keras. Semasa sekolahnya di bangku SD, ia acap kali berjualan jeruk nipis. Sore hari ia memanen di kebun milik orangtuanya, kemudian esoknya ia menjual hasil panennya tersebut sambil berangkat ke sekolah.

Memasuki usia remaja, Jabal berani mengambil keputusan berangkat ke Kota untuk melanjutkan SMA. Ia memilih tinggal di asrama mahasiswa asal daerahnya. Pengalamannya dalam berdagang pun dilanjutkan agar bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari di Kota. Ia pun menyambi sekolah dengan bekerja, dari menjual handphone sampai menjadi tukang ketik di salah satu kampus dekat asramanya.

Sebuah kebanggan tersendiri, saat di usia remaja ia bisa melanjutkan pendikan sembari bekerja untuk meringankan beban orangtua. Jabal anti menengadahkan tangan seraya menunggu bantuan orangtua.

Sebab, ia tak ingin menjadi beban bagi keduanya. “Saya dari kecil sudah mandiri. Ikut memanen, jualan jeruk nipis. Hasilnya ditabung untuk kebutuhan sekolah”, ucap Jabal Nur.

Terbiasa berinteraksi dengan mahasiswa membawa pola pikir Jabal semakin matang. Sedikit demi sedikit, ia pun mempelajari kondisi kemahasiswaan, dunia pendidikan dan sistem pemerintahan di Kota Makasar.

Semasa kuliah, alumnus Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin ini aktif mengikuti organisasi, baik eksternal maupun internal kampus. Ia merupakan sosok yang selalu menyukai tantangan, itulah pula yang mendorong dirinya untuk terus mencoba dan menemukan hal baru agar wawasannya lebih luas.

“Saya sangat suka tantangan. Apalagi saat itu di desa saya belum ada sarjana, jadi saya terus berusaha agar bisa melanjutkan pendikan”, terangnya.

Berkecimpung di berbagai organisasi di Kota Makassar seperti HMI, KNPI, Pemuda Muhammadiyah, ISMAPETI, HPMB, KAHMI dan beberapa organisasi lainnya membuat karakter lelaki kelahiran 1983 ini semakin terbentuk.

Karirnya di dunia politik dimulai pada tahun 2008. Keputusan ini diambil lantaran ia ingin menjadi bagian dari pengambilan kebijakan-kebijakan politik dalam pemerintahan.

Pada Pilkada Bantaeng lalu, ia pun turut andil mengambil bagian dengan maju menjadi salah satu calon Bupati Bantaeng. Meski kandas, politisi PAN ini tak putus asa dan terus melanjutkan mimpinya.

Bagi lelaki berusia 36 tahun ini, politik layaknya sebuah ajang berlatih untuk menempa diri agar bisa lolos dan mengetahui letak kekurangan.

Selain pengalaman tersebut, ia juga pernah menjadi salah satu bagian konsultan politik. Sepuluh tahun berkiprah di sana, ia betul-betul memahami statistik di bidang perpolitikan hingga mengolah dan menyajikan data untuk dikonsumsi publik.

Kini, Direktur PT Tebet Jaya Indonesia ini memantapkan diri untuk maju di Pilkada Serentak 2020, khususnya di Makassar. Semangat ini berangkat dari keresahannya melihat tata kelola yang carut marut di Tanah Daeng.

Konsep dan program yang ditawarkan pun tak lazim. Jabal satu-satunya bakal calon yang menerapkan sistem teknologi informasi untuk memfasilitasi perjalanannya pada Pilwalkot ini.

Akun Facebook, Instagram, YouTube dan sosial media lainnya dimanfaatkan untuk mempublikasikan dirinya di masyarakat.

Bahkan, bersama timnya, ia sudah mulai menyasar masyarakat untuk mengedukasi cara menggunakan IT. Hal ini diterapkan agar masyarakat tidak gagap dan terbiasa menghadapi era digitalisasi, mengingat saat ini sudah masuk era industri 4.0.

“Saya mau terapkan sistem IT. Kalau sosialisi dan kampanye menggunakan baliho di jalan itu sudah metode awam, jadul. Untuk menjadi smart city kita harus ikuti perkembangan”, katanya.

Ditempa dengan berbagai pengalaman dan pemahaman keorganisasian serta dunia perpolitikan, menjadi bekalnya hingga sampai ke titik ini.

Andi Zoelk

Pos terkait